(كوني لؤلؤة نفيسة ولو بين الرمال ~**~ ~**~ كوني زهرة جميلة ولو بين الأعشاب ~**~ (يسري كومبيه ~**~
"Jadilah Sebutir Mutiara Yang Berharga Meski Di Antara Tumpukan Pasir... Jadilah Setangkai Bunga Yang Indah Meski Di Antara Tumbuhnya Rerumputan..." (Yusri Kombih)

Sabtu, 06 Februari 2016

Filled Under:

Pernah Sekali Waktu



Berbicara tentang cinta…

Aku pernah jatuh cinta. Pernah sekali waktu. Meski setengah tak percaya, tapi cinta tak membutuhkan kepercayaan untuk tumbuh. Ia tercipta tanpa direkayasa. Meski tetap saja aku setengah tak percaya. Saat itu.



Pasalnya aku pernah tidak percaya pada cinta. Aku percaya bahwa perasaan cinta hanyalah perasaan orang bodoh yang tak kan pernah menyentuhku. Itu adalah kepercayaan yang kuanut beberapa waktu. Aku selalu muak pada kata cinta. Aku memusuhi cinta. Aku membenci cinta. Kau tahu kenapa? karena aku merasa tak kan pernah merasakannya. Ya. Tak kan pernah!



Kupandangi diriku lekat-lekat. Kutatapi sendiriku dekat-dekat. Kulihati akuku lekap-lekap. Di bagian mana cinta akan tumbuh pada diriku? Mungkin kah cinta akan tumbuh di dadaku seperti rerumputan? Atau kah cinta akan berbuah di perutku lantas bergelayutan? Di mana cinta itu? Aku tak percaya!

Aku menertawakan cinta! Haha.



Aku tak menyalahkan takdir. Tapi takdirlah yang mengenalkanku pada cinta. Perkenalan yang begitu indah yang tak kusadari pada akhirnya membuatku tak mengenali diriku sendiri.



Pernah sekali waktu aku jatuh cinta. Sedetik cinta yang akhirnya menyita seluruh detikku setelahnya. Tentu saja setiap orang pernah jatuh cinta, tapi saat itu kupikir hanya akulah. Ah, aku terlalu awam tentang cinta. Tentu tak seperti yang kupikir dalam picikku sebelumnya. Ia tak kan tumbuh bak rumput atau bergelayut bak buah. Itu terlampau sederhana. Cinta tak sesederhana itu.



Kata mereka orang jatuh cinta, hatinya akan berbunga-bunga. Ya, itu setengah benar. Tak sepenuhnya. Karena bunga-bunga tak sampai menjelaskan semua rasa itu. Karena rasa itu ajaib. Ya. Magis.



Pernah sekali waktu aku jatuh cinta. Ya, hari itu. Hari di mana aku melihat sesuatu yang tak pernah kulihat sebelumnya. Aku mendengar sesuatu yang tak pernah kudengar sebelumnya. Aku merasa sesuatu yang tak pernah kurasa sebelumnya.



Rasa? Rasa apakah itu. Aku tak mampu mendefenisinya.

Aku melihatnya. Sedetik waktu. Bercahaya. Kemerahan. Seperti lampu sorot yang hanya menerangi si dia, sedang yang lainnya redup saja. Ajaib. (Ini sugguhan, bukan gaya bahasa!)




Kutundukkan pandanganku. Gahddhul Bashar, itu materi kajian yang masih kuingat. Kuimani.



Kutundukkan pandanganku. Tapi aku terlambat. Sangat terlambat. Aku terlambat bahkan sejak lima puluh ribu tahun yang lalu.


Kau bunga yang indah
Biarlah aku melihatmu dari sini
Dari luar pagar taman ini
Kau rembulan yang menawan
Biarlah aku memandangmu dari sini
Dari kerendahan bumi ini
Kau permata yang berharga
Biarlah aku memimpikanmu dari sini
Dari mimpi-mimpi yang menyedihkan ini


Rasa itu tak butuh waktu panjang untuk tumbuh. Ia lebih ajaib dari rerumputan yang membutuhkan energi ultraviolet untuk fotosintesinya. Ia lebih magis dari buah yang memerlukan fase vegetatif untuk pertumbuhan generatifnya. Ah, rasa itu tumbuh begitu saja. Tak butuh energi. Tak butuh fase.



Ya, rasa itu tak membutuhkan energi dan fase pada masa pertumbuhannya. Tapi nyatanya seluruh energi tak kan sanggup menggenggam rasa itu. Seluruh fase tak kan mampu menyudahi rasa itu. Sedetik waku yang pada akhirnya menyita seluruh detikku setelahnya. Aku terlambat. Aku sangat terlambat. Aku terlambat lima puluh ribu tahun lamanya.



Pernah sekali waktu aku jatuh cinta. Hingga kini aku tak mampu lepas darinya.

Mereka mencelaku karena aku jatuh cinta. Padahal cinta bukanlah mauku. Padahal cinta bukanlah pilihanku. Jika aku bisa memilih, aku akan memilih untuk tidak jatuh cinta.



Kini… kupandangi diriku lekat-lekat. Kutatapi sendiriku dekat-dekat. Kulihati akuku lekap-lekap. Aku tak pernah lagi bertaya, “Di bagian mana cinta akan tumbuh pada diriku?”. Karena bahkan setiap desah nafasku menjawabnya.


Aku tak pernah lagi meyalahkan cinta. Aku tak pernah lagi menyalahkan mereka yang jatuh cinta. Karena aku berharap, seseorang di sana tidak akan menyalahkanku atas cinta ini.


Sekali waktu
Kau menyuapiku dengan segelak tawa
Aku terbahak
Lain waktu
Kau menyulangiku dengan seisak tangis
Aku tersedak

Kini
Di manakah kau?
Kau menghilang tanpa jejak.




Hujan Sore Ini

0 komentar:

Posting Komentar

Visitor

free counters

Copyright @ 2013 صاحب القرآن.